Tak Cukup Hanya Visi Misi

Tags

, , , ,

Pakar Pembangunan Karakter Ary Ginanjar menceritakan Pada 1923 terjadi sebuah gempa dahsyat sebesar 8,3 Skala Richter yang meluluhlantakkan Tokyo. Semua bangunan roboh dan nyaris rata dengan tanah. Namun, di antara reruntuhan itu ada satu gedung yang tetap berdiri. Bangunan yang kemudian menjadi sangat terkenal itu bernama imperial palace Hotel.

Banyak yang penasaran, apa yang menyebabkan bangunan tersebut tetap berdiri. Setelah diteliti ternyata bangunan itu fondasinya sangat kuat.

Jika gedung memiliki fondasi kokoh, menjadi tahan gempa, bagaimana dengan perusahaan, organisasi, atau negara?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi hebat di dunia ternyata fondasinya juga sangat kuat. Tantangan dan persaingan pada masa datang semakin ketat dan sulit ditebak. Sebuah lembaga ingin hebat dan tahan guncangan juga harus mempunyai pondasi kuat supaya tidak terombang – ambing dan roboh.

Fondasi organisasi merupakan sesuatu yang menentukan kesuksesan jangka panjang. Semua orang yang membuat lembaga ingin berlangsung lama, bahkan kalau bisa hingga ratusan tahun. Fondasi sebuah organisasi atau lembaga ada dua unsur yaitu manusia dan budayanya (people and culture).

Bagaimana membangun budaya organisasi? Banyak orang beranggapan bahwa itu ditentukan visi dan misinya. Sesungguhnya tak cukup hanya merumuskan visi dan misi karena harus ada eksekusi. Berbicara mengenai eksekusi adalah berbicara mengenai karakter manusia karena manusialah yang menjalankannya. Karakter manusia dibangun berdasarkan nilai-nilai yang menjadi fondasi yang melandasinya.

Arie De Geuss dalam ristnya di The Living Company membuat sebuah kesimpulan bahwa perusahaan yang mampu bertahan hingga seratus tahun adalah mereka yang memiliki budaya sebagai fondasi yang kuat. Perusahan hebat seperti Shell dan General Electric (GE) umurnya mencapai seratus tahun. Begitu juga hasil riset terbaru Jim Collins dalam buku Good to Great yang fenomenal tentang beberapa gelintir perusahaan hebat dari Fortune 500 bahwa korporasi yang hebat adalah mereka yang mampu mempertahankan core value dan corepurpose ditengah berbagai perubahan strategi, struktur, maupun manajemen.

Artinya mereka mampu mempertahankan misi inti dan nilai inti sebagai budaya.Itulah fondasi korporasi atau dengan kata lain “culture”. Menurut Jim Collins, strategi bisa berubah-ubah, namun core values dan core missiion tetap tidak berubah.

Jika visi berbicara mengenai tujuan yang akan dicapai sebuah organisasi, misi adalah apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sedangkan nilai adalah pedoman perilaku dalam menjalankan misi untuk mewujudkan visi.

Visi, misi dan nilai apabila di aplikasikan oleh setiap karyawan, akan melahirkan makna bekerja. Karyawan akan merasakan pekerjaan sebagai hal yang luhur dan bernilai sehingga membuat mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk bekerja.

Banyak organisasi yang telah merumuskan visi dan misi, namun gagal dalam menanamkan nilai karena visi dan misi hanya pada tataran konsep tanpa implementasi.

Visi dan misi hanya menjadi pajangan dan tidak keluar menjadi perilaku(behaviour). Karena itu, nilai itulah yang menjadi fondasi. Kita bisa melihat bagaimana produk-produk perusahaan Jepang bisa ekspansi keseluruh dunia dan berumur ratusan tahun.

Ini disebabkan karena tujuh nilai Bushido yaitu Gi (Integritas), Yu (Keberanian), Jin (Kemurahan hati), Rei (Menghormati), Makoto atau Shin (Kejujuran dan Tulus Ikhlas), Meiyo (Kehormatan/Menjaga Kehormatan Diri), dan Chugo (Loyal/Setia).

Dengan fondasi nilai Bushido, apapun jenis organisasi tau perusahaannya, apapun sistem yang dipakai, lembaga tersebut akan kokoh, ibarat rumah yang kuat fondasinya.

Seperti badan ada jiwanya, seperti itulah organisasi yang memiliki nilai yang kuat.

Kode Etik mengenai hal yang harus dimiliki apa yang boleh dan tidak boleh harus jelas dan dilaksanakan dalam menjalankan sebuah perusahaan, organisasi ataupun negara.

Inilah yang luput ditanyakan dan dinilai dari debat pasangan calon presiden (capres). Tidak cukup hanya membahas atau merumuskan visi dan misi, namun perlu niali sevbagai fondasinya. Membangun negara tanpai nilai sama saja dengan membangun rumah tanpa fondasi.

Pakar-Pembangunan-Karakter-Artikel-Koran-Sindo-tgl-24-Juni-2014-1

Advertisements

Engagement dan Racun Budaya Perusahaan

Tags

, , , , , , , , , ,

Employee engagement sangat penting dan menunjang peningkatan kinerja perusahaan. Menurut sebuah riset, employee engagement dapat memberikan peningkatan kinerja pada karyawan, kepuasan konsumen, serta keberhasilan untuk organisasi (bates, 2004;Baumruk,2004;Richman, 2006).

Seorang manajer bagian HR (human resource) disebuah perusahaan swasta begitu khawatir dengan fenomena talent war atau perang karyawan yang muncul belakangan ini. Beberapa profesional andalannya hengkang ke perusahaan kompetitornya.

Saat ini memang marak jasa head hunter untuk memburu para profesional berkualifikasi tinggi. Dalam upaya memenangi persaingan, perusahaan tertentu memilih membajak profesional terbaik dari lur meski harus mengeluarkan budget besar.

Bagaimana mempertahankan karyawan terbaik dari serangan talent war? Jawabannya ada pada istilah pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang berkembang saat ini yaitu employee engagement. Ini kekuatan yang mengikat antara perusahaan dan karyawan baik secara emosional, rasional maupun spiritual yang mampu mendorong kinerja optimal individu sehingga membuat perusahaan mampu mencapai tujuannya dan memiliki keunggulan bersaing.

Employee engagement sangat penting dan menunjang peningkatan kinerja perusahaan. Menurut sebuah riset, employee engagement dapat memberikan peningkatan kinerja pada karyawan, kepuasan konsumen, serta keberhasilan untuk organisasi (bates, 2004;Baumruk,2004;Richman, 2006).

Namun, fakta mengenai tingkat engagement karyawan diperusahaan sangat mengejutkan. BerdaSarkan hasil riset dari Galup Management Journal 2001 hanya satu dari empat karyawan merasa terlibat atau 26% (engaged), mereka mencintai apa yang mereka kerjakan dan mereka bersemangat untuk datang bekerja. Sedangkan dua dari empat karyawan acuh atau 55% (disengaged), mereka memencet mesin absensi tetapi hati dan pikiran mereka kemana-mana. Sisanya yaitu satu dari lima karyawan aktif acuh atau bahkan menjadi provokator 19% (actively disengaged) mereka menyebarkan kegalaunnya seberapa jauh mereka tidak puas dengan atasannya, rekan kerja, atau perusahaan pada umumnya.

Sesungguhnya ada tiga faktor yang dapat menumbuhkan employee engagement, yaitu keselarasan antara nilai priadi dan nilai-nilai organisasi, lingkungan kerja yang kondusif, serta sistem kompensasi dan reward yang fair dan memadai. Dua faktor pertama merupakan faktor-faktor yang lebih terkait budaya perusahaan, sedangkan faktor terakhir lebih terkait kesejahteraan karyawan.

Dari tiga faktor tersebut di atas, mana yang paling memberikan dampak terhadap employee engagement? Leigh Branham dalam “The 7 Hidden Reason Employees Leave: How to Recognize The Subtle Signs and Act Before it’s Too Late” (2005) menyimpulkan, “Lebih dari 85% manajer meyakini bahwa karyawan meninggalkan perusahaan karena mereka tertarik dengan gaji yang lebih besar dan kesempatan yang lebih baik. Namun lebih dari 80% karyawan mengatakan bahwa faktor yag membuat mereka keluar dari perusahaan karena didorong oleh hal yang berkaitan dengan buruknya praktik manajemen atau racun budaya (Budaya perusahaan yang sakit)”.

Agar dapat meningkatkan employee engagement, perlu dilakukan pengukuran terhadap kesehatan budaya organisasi sebagai faktor yang mempengaruhi Budaya yang sehat adalah keselarasan antara nilai-nilai organisasi akan mendorong kohesivitas internal yang kemudian meningkatkan employee engagement serta perbaikan kinerja.

Tingkat keracunan budaya sebuah organisasi disebut sebagai entropi budaya yaitu eergi yang terbuang di tempat kerja untuk hal yang tidak produktif.

Entropi budaya antara lain disebabkan oleh birokrasi yang berbelit, kontrol dan kehati-hatian yang berlebihan, saling tidak percaya, saling menyalahkan, kompetisi internal, ketidakjUjuran, dan sebagainya. Itu semua tergolong racun budaya perusahaan. Riset yang dilakukan Barret Values Center dan Hewitt Associates terhadap 163 organisasi di Australia (2008) menunjukkan korelasi yang kuat antara tingkat entropi budaya dan employee engagement.

Dari tabel tersebut tampak jelas korelasi antara engagement dan entropi budaya. Semakin Tinggi Entropi semakin rendah Engagement. Semakin rendah entropi atau semakin rendah racun budaya akan semakin tinggi rasa keterkaitan positif dengan perusahaan.

Permasalahan yang sering terjadi adalah para pemimpin tidak mengetahui berapa tingkat keracunan atau entropi budaya budaya dalam perusahaan dan apa penyebab terjadinya penurunan engagement.

Seperti seorang pasien yang menderita sakit dan ingin berobat, perlu cek laboratorium untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuhnya. Berapa tekanan darah dan detak jantungnya, bagaimana kadar kolesterolnya, atau bagaimana kondisi ginjal dan levernya? Dari tes laboratorium itulah akan diketahui apa penyakit yang dideritanya dan apa obat yang diperlukan.

Demikian juga dalam organisasi perusaaan, perlu diukur berapa entropi budayanya, dan apa saja yang telah menjadi racun budaya apakah birokrasi, kejujuran, kompetisi internal yang tidak sehat, tidak ada saling kepercayaan, atau yang lainnya, serta di direktorat mana? sEMUA HARUS BISA DIBACA SECARA AKURAT.

Dengan teknologi assessment budaya modern, sekarang sudah dapat diukur berapa besar entropi budaya dan apa saja jenis racun yang merongrong kesehatan budaya perusahaan. Dengan demikian, dapat diketahui dan disusun langkah-langkah tepat, efektif, dan efisien yang diperlukan untuk meingkatkan engagement karyawan yang selama ini menghantui pikiranpara pemimpin organisasi.

Sindo-AGA-18022014

Klik gambar untuk memperbesar

ESQ Bangun Budaya Negeri Kedah

Tags

, , , , , ,

Menurut Pakar Pembangunan Karakter Ary Ginanjar Agustian, “Untuk kembali menjadi Negeri Kedah Darul Aman, penduduknya harus aman dulu dalam dirinya baru akan lahir kemakmuran.”

Kepercayaan untuk membangun budaya tidak hanya diberikan masyarakat Indonesia kepada ESQ. Malaysia sebagai negara tetangga juga melakukannya.

Menurut Pakar Pembangunan Karakter yang juga pendiri ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian, hal itu terbukti dengan penyelenggaraan training untuk mengubah mindset para pemimpin di Negeri Kedah, Malaysia, 29 – 31 Januari.

Training bertajuk Personal Transformation Program for Leaders itu berlangsung di Sri Mentaloon, Aloe Setar, Kedah diikuti 200 peserta yang terdiri dari pegawai Negeri Kedah, imam atau para pendakwah, wakil korporasi, pimpinan, mahasiswa, dan juga politikus.

Training ini melanjutkan kegiatan serupa Desember 2013. Target batch (angkatan, Red) pertama adalah 1000 orang agen perubahan (agent of change) Negeri Kedah. Alhamdulillah ESQ kembali mendapat kepercayaan untuk membangun budaya di Malysia,” ujar Ary Ginanjar Agustian melalui siaran pers kemarin.

Menurut Ary, training itu digagas Menteri Besar Kedah Dato’ Seri Mukhriz Tun Mahathir, pejabat yang juga terpilih sebagai menteri besar (setara dengan gubernur) enam bulan lalu. Dia adalah alumni ESQ di Kuala Lumpur yang mengikuti training sekitar empat tahun lalu.

“Para peserta mengikuti acara dengan penuh semangat dan antusias. Berbagai komentar positif diucapkan. Bahkan mereka membuat laman khusus di jejaring sosial nedia dengan nama Satria Kedah 165 sebutan untuk para agen perubahan Kedah. ” kata Ary.

Training-ESQ-di-Kedah-MalaysiaJawa-Pos

Sementara itu Ary Ginanjar dalam materi training menjelaskan kehebatan Kedah pada masa lalu. Kedah adalah negeri pertama yang menerima kedatangan Islam pada 1136 Masehi. Pada 1650 sudah ada undang-undang Kedah yang menunjukkan bahwa Kedah merupakan negeri yang memiliki peradaban tinggi.

Untuk kembali menjadi Negeri Kedah Darul Aman, penduduknya harus aman dulu dalam dirinya baru akan lahir kemakmuran,” terang Ary

Dato’ Mukhriz terlihat bersemangat dalam kegiatan itu. Slogan menteri besar yang baru adalah Transformasi Kedah Aman Makmur. Dia mengharapkan perpaduan berbagai kelompok agar menyatu membangun Kedah. Dia juga yakin Kedah akan bangkit.

Tak perlu ramai. Dengan beberapa ratus pemuda yang punya keyakinan dan bersungguh sungguh perubahan akan terjadi. (Jawa Pos 04022014)

Wujudkan Indonesia Emas 2020

Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Pakar pembangunan karakter dan founder ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian mengungkap, jumlah wirausaha di Indonesia belum mencapai satu persen. Padahal, di Amerika Serikat ada 17 persen wirausahawan, sedangkan Singapura mencapai sekitar tujuh persen. Hal itu tentu berdampak kurang baik bagi Indonesia. Diantaranya, jumlah pengangguran dan sarjana menganggur terus bertambah. Penyebabnya masyarakat tidak mempunyai jiwa wirausaha. Oleh karena itu, melalui ESQ Business School yang didirikannya, Arymengajak untuk membangun dan membuka jiwa wirausaha.

ary-ginanjar-gerak-jalan-esq

Tujuannya, agar masyarakat tidak mengandalkan pemerintah dalam membangun ekonomi. Suatu negara, lanjut Ary, akan maju jika rakyatnya mandiri. “Rakyatnya kalau bisa mendahului pemerintah. Ini yang kami sebut Indonesia Emas,” paparnya.

Target pertama, Indonesia Emas 2020 bisa terwujud. Pondasinya, dengan menegakkan Indonesia berkarakter jujur, tanggung jawab, visioner, kerjasama, adil dan peduli.

Rencananya, pada 20 Mei 2020 akan dilaksanakan deklarasi di Gelora Bung Karno, senayan. “Siapa saja pemimpin yang merasa tidak terlibat korupsi silahkan masuk, yang terlibat korupsi jangan masuk,”terangnya.

Selanjutnya, pada 20 Mei 2030, Indonesia sejahtera bisa tercapai. Dengan didukung pendapatan perkapita yang baik, tidak menutup kemungkinan pada 2045, Indonesia sebagai negara adidaya bisa terwujud. “Tidak ada salahnya bercita-cita, semua orang berhak bercita-cita,”katanya.

Para Alumni ESQ 165, lanjut dia, sudah membentuk wadah yakni forum alumni ESQ. Gerakan pemuda 165 atau GEMA 165 dan forum mahasiswa juga telah terbentuk. Kerjasama dengan para pengusaha, sekolah tinggi pegawai dalam negeri, dan akademi kepolisian juga dilakukan. Tujuannya pada 2020 mereka bsa menjadi pemimpin yang baik. Terbaru, melalui ESQ Business School, Mahasiswa diajarkan untuk berani tampil. “Ada tim-tim parodi, mereka harus berani promosi,” tambahnya.

Sebagai seorang pakar pembangunan karakter Ary sudah berpengalaman dalam bidang bisnis. Mantan dosen Politeknik Universitas Udayana Bali itu pernah megajar selama tujuh tahun. Selama itu, hanya intelektualitas yang diajarkan. Sedangkan, moral dan spiritualitas masih sangat kering. “Otak cerdas, pinter, tapi emosional spiritual kosong. Saya merasa ada yang salah,” terangnya.

Selanjutnya, Ary pun menjajal dunia bisnis. Yakni bidang telekomunikasi, radio panggil, supplier program pemerintah, dan asuransi.

Selama berkecimpung di dunia bisnis, dia mendapatkan apa yang diinginkan. Namun pada 1998 saat krisis moneter melanda, bisnis yang dijalankannya pun hancur semua. “Saya jadi berpikir ulang apa arti kehidupan,” kenangnya.

Bisnis yang dulu sempat dirintisnya diberikan kepada orang lain. Pada 1999, Ary pun memulai ESQ. Selama hampir satu tahun, Ary tidk menonton televisi ataupun membaca koran. Dia fokus menulis, membaca Al Qur’an dan belajar fenomena leadership.

Kenali Fungsi Emosi Diri

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sejumlah praktik korupsi masih mewarnai wajah Indonesia sepanjang 2013. Persoalan narkotika dan tawuran pelajar juga banyak dijumpai. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memberantasnya. Harapannya, terwujud bangsa yang lebih maju, sejahtera, adil dan makmur. Meski demikian, tetap belum terlihat kemajuan yang signifikan.

Pakar pembangunan karakter Ary Ginanjar Agustian mengatakan pasca reformasi Indonesia berharap bisa menjadi bangsa yang lebih sejahtera, makmur dan maju. Pergantian pucuk kepemimpinan, menteri dan penyesuaian sistem pun dilakukan. Namun hasilnya masih tetap sama. “Dalam arti, kita tidak mendapatkan seperti yang kita harapkan.” katanya

Salah satu yang menjadi persoalan utama, lanjut ary adalah karena hanya fokus membangun strategi. Laki-laki kelahiran Bandung, 24 Maret 1965 itu, mencontohkan Tiongkok. Ketika Tiongkok ingin melindungi bangsanya, pemerintah membangun tembok raksasa yang tingginya dan panjangnya mencapi ribuan kilometer. Tujuannya agar pertahanan tidak bisa dijangkau oleh lawan.

Kenyataannya, terang Ary, pertahanan pun jebol. Meski tidak pernah merobohkan tembok, namun lawan menyuap sang penjaga. Demikianjuga Indonesia “yang dibangun temboknya, sistemnya, karakternya. Manusianya tidak dibangun, ” tuturnya. Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk berbenah membangun karakter diri, keluarga, organisasi hingga bangsa.

Pentingnya membangun karakter diri tidak terlepas dari fenomena di kalangan remaja. Masih banyak diantara mereka yang terlibat tawuran. Pengguna narkotika pun hampir mencapai lima juta orang. Aborsi juga banyak dilakukan kalangan remaja. Menurut laki-laki yang meraih sejumlah penghargaan itu, beragam hal terjadi karena generasi muda dididik kecerdasan intelektualnya saja.

Padahal kecerdasan intelektual seperti nilai raport dan indeks prestasi hanya berkontribusi 10-20 persen. Sisanya yang 80 persen adalah kecerdasan emosional dan spiritual. Nah, dua hal itulah yang menjadi sumber pengembangan karakter. “inilah yang tidak banyak diajarkan.” jelas docyor honoris causa di bidangpembangunan karakter Universitas Negeri yogyakarta itu.

Melalui kecerdasan emosional, manusia diajak untuk mampu berempati dan menyesuaikan diri. Tanpa kecerdasan emosi, manusia bisa saling menyakiti, demikian juga kecerdasan spiritual. Manusia memiliki hati nurani dan sisi religiusitas yang harus terus diasah. Tujuannya agar hati nurani tidak mati. Akibatnya korupsi dan tawuran terus berjalan paparnya.

Nah emotional dan spiritual quotient (ESQ) itulah yang terus di dongkrak. Termasuk dikolaborasikan dengan kecerdasan intelektual. Caranya dimulai dengan mengenal fingsi diri. Yakni mengenal emosi dan nurani masing-masing. Selama ini, terang Ary, fungsi emosi tersebut dimatikan. Tidak heran jika muncul idiom jangan gunakan perasaan, namun gunakan saja logika, akibatnya tidak merasa berdosa ketika menyakiti orang lain, imbuhnya.

Sebagai seorang pakar pengembangan karakter, Ary Ginanjar mengajak kepada siapa saja untuk menghidupkan lagi sisi emosional yang dimiliki setiap orang. Jangan sampai sisi emosional menjadi mati. Sebaliknya harus dihidupkan dan mampu merasakan. Yakni mampu berempati, tepo seliro, prisip kejujuran dan berbagi dengan sesama.

Terpenting, selain membangun karakter jiwa kepemimpinan, upaya membangun jiwa pengusaha atau wirausaha berkarakter juga penting dilakukan. Ary mengajak masyarakat agar berusaha mengelola mindset. Tidak dipungkiri jika Indonesia pernah dijajah Belanda ratusan tahun. Karena itu seseorang akan merasa hebat jika menjadi priyayi.

Padahal 99 pintu rejeki ada diperdagangan. yang disayangkan ternyata pintu-pintu itu banyak dikuasai oleh pihak lain . Oleh karena itu Ary mengajak masyarakat agar berani mengambil keputusan untk berwiraswastadan berani ber cita-cita.

Menurut Ary, ilmu bisnis bisa dipelajari. Namun mental wiraswasta mutlak harus dimiliki. Diantaranya berani ambil resiko, teguh pada kejujuran, passion, profesional, rendah hati, dan kreatif. Meski demikian dia menegaskan agar tetap melandaskan diri pada ketuhanan. Sila pertama Pancasila yang berbunyi keTUhanan Yang Maha Esa harus tetap dihormati. :Harus menjadi dasar utama untuk membangun jati diri bangsa.” jelasnya. Jawa Pos 30 Desember 2013

Jawa-Pos-30-Desember-2013

Gunung

Tags

, , , ,

Pakar pembangunan karakter - Ary Ginanjar Agustian

Cobalah tatap sebuah puncak gunung di balik awan yang menutupinya. Begitulah cara melihat visi kita kedepan. Kita perlu sebuah keyakinan, seyakin apabila kita melihat adxanya sebuah gunung yang nyata di hadapan kita. Tidak pduli meskipun awan kelabu, atau awan hitam, atau awan putih indah menutupinya.

Kita akan menembus ilalang, semak belukar, jurang, hutan belantara, bahkan kadang serangan binatang buas didalamnya.

Kadang kita menemukan sebuah telaga jernih. Tetaplah dan teruslah berjalan dengan keyakinan menggunung yang ada dalam hati kita. Peliharalah terus keyakinan itu.

Suatu saat engkau akan tiba disana. Pada akhirnya engkau akan tahu, bahwa keindahan sesungguhnya bukanlah terletak padxa puncak gunung yang indah nan sepi. Akan tetapi keindahan itu adalah perjalanan itu sendiri. Ketika engkau didera rasa takut, rasa sabar atau sebaliknya, rasa damai atau sebaliknya, rasa adil atau sebaliknya, rasa terhormat atau sebaliknya, rasa cinta atau sebaliknya.

Engkau akan mengenal keberadaan-Nya, ketika dia menjauh atau mendekat. Engkau akan paham melalui sifat-Nya yang indah. Lebih indah dari puncak gunung itu sendiri.

Maka hargailah perjalananmu sekarang. Tak perlu meratapi, karena engkau sedang membuat sebuah novel sastra indah tentang kehidupanmu sendiri.

Tulislah semua dengan berbagai warna tinta, tinta biru, tinta hitam, tinta jingga atau tinta ungu.

Dengan apapun warna tinta itu itu, maka ketika seluruh tinta itu dicampurkan menjadi satu, yang engkau lihat hanya menjadi tinta putih. Seputih kafan Putih yang akan menutupi jasadmu.

Terima kasih ya Allah atas kehidupan yang Engkau berikan. Laa mahbuba illa huwa Allah

Ary Ginanjar Agustian (Pakar Pembangunan Karakter

diambil dari : ESQ Life Magazine Edisi 05 tahun I Januari 2014